Penulis: Azrey Auranugraha Supriadi
A. Pendahuluan
“Islamic moral education should include an understanding of modern technology, where Muslims need to master technology to advance society while still adhering to Islamic moral principles.”
-Dr. Zakir Naik
Tahun 2024 memasuki era society 5.0, dimana manusia dan teknologi saling terintegrasi untuk mentransformasi big data menjadi suatu inovasi yang meningkatkan kualitas hidup (Wibawa dan Agustina, 2019). Manusia akan banyak berinteraksi dengan berbagai teknologi dalam kehidupannya sehari-hari. Hal tersebut terjadi di Indonesia, yang dibuktikkan dengan data statistik dari jumlah pengguna internet di Indonesia pada tahun 2024 yang mencapai angka 79,5% dari total populasi penduduk (APJI, 2024). Bukan hanya itu, Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) juga mengalami peningkatan pada tahun 2024, sehingga mencapai 43,34 (BPSDM Kominfo, 2024). Data ini menunjukkan pesatnya perkembangan teknologi di Indonesia.

Gambar 1. Diagram batang jumlah pengguna internet di Indonesia (Sumber: APJI, 2024)
Pesatnya perkembangan teknologi yang ada di Indonesia dapat menjadi tantangan terhadap berbagai aspek, terutama pendidikan. Salah satu aspek pendidikan yang paling terdampak dari perkembangan teknologi ialah pendidikan agama Islam (Yusri dkk., 2024). Hal ini menimbulkan rasa prihatin, jika nilai-nilai agama tergeser oleh perkembangan zaman. Di sisi lain, Kementerian Agama RI bertujuan mengajarkan moral Islam di madrasah. Kemenag pun merumuskan suatu program yang mengintegrasikan teknologi dengan nilai moral Islam yang disebut P5 PPRA. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Profil Pelajar Rahmatan Lil Alamin (P5 PPRA) bertujuan menanamkan karakter pelajar pancasila dan rahmatan lil alamin serta kemampuan berteknologi (Merdeka, 2022).

Gambar 2. Bagan tahapan-tahapan P5 PPRA (Sumber: Merdeka, 2022)
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Safitri dkk. (2024), para siswa di MTsN 2 Aceh Barat kehilangan motivasi dalam kegiatan P5 PPRA disebabkan kurangnya perencanaan dari pihak kepala sekolah. Kemudian pada penelitian Ramah dan Rohman (2023), mereka menemukan bahwa rendahnya antusiasme dari siswa untuk terlibat aktif dalam P5 PPRA disebabkan kurangnya dukungan dari pihak sekolah dan orang tua. Tahap “pelibatan siswa” memiliki banyak kendala yang menghambat partisipasi aktif siswa. Padahal, siswa merupakan subjek dari program ini dan jika tidak adanya partisipasi aktif dari subjek, maka tujuan program tersebut tidak akan tercapai secara maksimal. Hal ini sejalan dengan Teori Keterlibatan yang digagas oleh Kearsley dan Shneiderman (1998), yang menjelaskan bahwa keberhasilan suatu program pendidikan sangat bergantung pada seberapa besar keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Program yang melibatkan siswa aktif lebih berhasil menciptakan pengalaman pembelajaran bermakna, meningkatkan motivasi, dan mendorong pencapaian (Kearsley dan Shneiderman, 1998). Akan tetapi sampai saat ini belum ada solusi yang secara spesifik mengatasi permasalahan pada tahap “pelibatan siswa” tersebut.
Pemerintah dan masyarakat telah menangani masalah implementasi P5 PPRA. Namun, belum ada upaya spesifik untuk meningkatkan partisispasi aktif siswa dalam P5 PPRA. Hal ini dikarenakan kurangnya perhatian pada implementasi P5 PPRA dalam hal keterlibatan siswa. Oleh sebab itu diperlukan suatu inovasi yang dapat meningkatkan angka partisipasi aktif siswa. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah menerapkan Madrasah Connect: forum kolaborasi dan inspirasi siswa madrasah.
B. Pembahasan
Madrasah Connect merupakan forum berbasis Teori Keterlibatan Kearsley dan Shneiderman (1998) bertujuan meningkatkan partisipasi siswa dalam P5 PPRA dengan model relate, create, dan donate.
1. Relate
Madrasah Connect memfasilitasi kolaborasi siswa dalam kelompok untuk membahas isu-isu yang diangkat oleh P5 PPRA. Teori Keterlibatan menjelaskan bahwa pembelajaran yang efektif terjadi ketika siswa bekerja sama dalam lingkungan sosial yang mereka rasa ikut andil di dalamnya.
2. Create
Siswa dapat diberikan proyek yang mendorong mereka untuk merancang solusi praktis dalam kehidupan sehari-hari dengan mengintegrasikan nilai-nilai Islam. Misalnya, siswa dapat membuat konten digital mengenai moderasi. Aktivitas ini akan meningkatkan kreativitas dan melibatkan mereka dalam kegiatan yang relevan dengan dunia nyata. Teori Keterlibatan menjelaskan bahwa keterlibatan siswa akan meningkat ketika mereka menciptakan sesuatu yang nyata dan bernilai.
3. Donate
Siswa didorong untuk menyebarkan hasil karya mereka ke pada masyarakat, seperti media sosial. Donate dalam Teori Keterlibatan berarti hasil proyek mereka harus bermanfaat bagi orang lain. Sehingga, dapat meningkatkan rasa pencapaian dan memperkuat hubungan siswa dengan nilai-nilai rahmatan lil alamin.
4. Sistem Alur Madrasah Connect
Madrasah connect memiliki beberapa alur sistem dalam pengimplementasiannya. (1) Analisis kebutuhan siswa, guru dan siswa berdiskusi untuk memahami minat dan potensi yang bisa dikembangkan. (2) Relate, membentuk kelompok kolaborarif untuk membahas tema P5 PPRA. (3) Create, siswa membuat proyek berbasis nilai islami yang memecahkan masalah nyata atau mengembangkan kreatifitas. (4) Donate, proyek siswa dipublikasikan kepada masyarakat, misalnya melalui media sosial. (5) Evaluasi dan umpan balik, guru memberikan evaluasi dan umpan balik terkait keterlibatan siswa dan dampak program.
5. Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan Madrasah Connect meliputi (1) Peningkatan aktif siswa melalui model relate-create-donate yang mendorong mereka dalam setiap tahap program. (2) Program ini juga mendukung kreativitas siswa, yang dibutuhkan dalam menghadapi era society 5.0. (3) Proyek yang dihasilkan memiliki dampak langsung pada masyarakat, sehingga dapat menguatkan nilai-nilai rahmatan lil alamin, serta memotivasi siswa dengan memberikan hasil nyata dari upaya mereka.
Di sisi lain Madrasah Connect masih terdapat kekurangan. (1) Kebutuhan akan pendampingan intensif dari guru yang mungkin tidak selalu memiliki kapasitas waktu yang memadai. (2) Memerlukan infrastruktur yang memadai seperti komputer dan internet. (3) Memerlukan dukungan dari berbagai pihak terutama pemerintahuntuk pelaksanaan yang optimal..
C. Kesimpulan
Perkembangan teknologi di era society 5.0 membawa manfaat sekaligus tantangan bagi pendidikan, khususnya pendidikan agama Islam. Salah satu satunya adalah tergesernya pendidikan moral Islam akibat kemajuan teknologi. Untuk menanggapi hal ini, Kementerian Agama RI meluncurkan P5 PPRA yang bertujuan menanamkan nilai-nilai Islam yang diintegrasikan dengan teknologi. Namun, dalam pelaksanaannya, partisipasi aktif siswa masih rendah. Sebagai upaya untuk mengatasi hal ini, penerapan Madrasah Connect yang berbasis Teori Keterlibatan dapat menjadi solusi.
Dibutuhkan dukungan beberapa pihak agar penanganan partisipasi aktif siswa lebih komprehensif. Apabila hal ini dapat diimplementasikan dengan baik dengan melibatkan semua pihak, niscaya penangan partisipasi aktif siswa ini menjadi lebih baik.
D. Daftar Pustaka
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia. (2023). Laporan survei internet Indonesia 2023. Diakses dari https://apjii.or.id
Kearsley, G., & Shneiderman, B. (1998). Engagement theory: A framework for technology-based teaching and learning. Educational technology, 38(5), 20-23.
Merdeka, T. P. K. (2022). Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Dan Pelajar Rahmatan Lil Alamin. Jakarta: PINTAR.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Aplikasi Informatika dan Informasi dan Komunikasi Publik. (2024). Peluncuran hasil pengukuran Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2024: “Membangun masyarakat digital berbasis kewilayahan” [Berita]. Diakses dari https://bpsdm.kominfo.go.id/satker/paikp/berita-peluncuran-hasil-pengukuran-indeks-masyarakat-digital-indonesia-imdi-2024-m-5-76
Ramah, S., & Rohman, M. (2023). Analisis Kebijakan Implementasi Kurikulum Merdeka di Madrasah. Bustanul Ulum Journal of Islamic Education, 1(1), 97-114.
Safitri, A., Siregar, A. H., & Ramud, F. (2024). KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH DALAM MENERAPKAN KEGIATAN P5 PPRA PADA KURIKULUM MERDEKA DI MTsN 2 ACEH BARAT. JURNAL TARBIYAH, 31(1), 141-154.
Wibawa, R. P., & Agustina, D. R. (2019). Peran pendidikan berbasis higher order thinking skills (hots) pada tingkat sekolah menengah pertama di era society 5.0 sebagai penentu kemajuan bangsa indonesia. EQUILIBRIUM: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Pembelajarannya, 7(2), 137-141.
Yusri, M., Akbar, A., & Basri, A. (2024). Problematika Pendidikan Agama Islam di Era Modern. Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam, 5(2), 83-91.
0 Comments