Penulis : Aisyah Adinda
Ditulis tahun 2021
Pendahuluan
Indonesia, bangsa yang tepat berada di tahun ke 77 sejak kali pertama proklamasi kemerdekaannya. Tentang berapa banyak peristiwa penting yang telah kita alami tentunya juga selaras dengan lama kurun waktu tersebut. Secara resmi telah menghasilkan catatan panjang 6 Jilid Sejarah Indonesia dan literatur sejarah lain yang ditulis melalui berbagai perspektif dan jumlahnya tak terhitung. Literatur sejarah inilah yang merekam, mengabadikan, sekaligus menjadi titik awal keterjalanan 4 guna sejarah menurut Nugroho Notosusanto, 2004. Salah satunya adalah guna inspiratif sejarah yang berkenaan langsung dengan penguatan identitas, dan pemaknaan sejarah suatu bangsa lewat kisah, karya inspiratif sejarah dan para tokoh di dalamnya.
Namun, bagaimana ketika peristiwa dan tokoh yang dimaksudkan ini bukanlah pertistiwa dan mereka yang umumnya dipelajari di kelas-kelas, institusi dan lembaga pendidikan? Tidak termasuk dalam kurikulum wajib dipelajari dikarenakan suatu keterputusan, kesenjangan informasi sejarah yang jarang diangkat, dihindari bahkan dianggap suatu bagian dari peristiwa paling kelam yang pernah terjadi di negara ini. Maka, nasionalisme di kalangan Eksil Indonesia yang terdampak pasca peristiwa 1965-1966 adalah permisalannya.
Pembahasan
Peristiwa 1965-1966 dan Eksil Indonesia
Eksil, dari bahasa inggris exile memiliki arti ‘terasing’. Sementara di Kamus Besar Bahasa Indonesia eksil diartikan ‘keluar, terpingggirkan’. Dan nasib inilah yang diterima oleh paling tidaknya 1.500 mahasiswa dan mahasiswi yang dikirim belajar ke beberapa negara oleh Sukarno pada masa kepemimpinannya sampai akhir Demokrasi Terpimpin. Pada mulanya tujuan pengiriman putra-putri pilihan tersebut adalah salah satu dari cara bagi negara yang baru terlepas dari negara penjajah ataupun pasca perang untuk membangun suatu kemandirian ekonomi, politik dan infrastruktur pemerintahan sebagaimana pendapat yang dikemukakan oleh Wahyudi Akmaliah, 2015.
Pengiriman ini juga merupakan kontribusi langsung muda-mudi tanah air dalam meraih harapan proklamasi ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’. Bersamaan dengan pengiriman tadi, Indonesia juga memulai hubungan diplomatik ke berbagai negara diantaranya negara-negara Asia Tenggara, Tiongkok, Jepang, Afrika, Amerika Serikat dan beberapa negara Timur Tengah, dimana hubungan ini tentunya mendukung dan memperluas kesempatan bagi putra-putri bangsa dikirim belajar ke luar negeri.
Akibat ketidakberpihakan (bebas aktif) nya Indonesia dalam membangun hubungan kenegaraan di tengah situasi perang dingin sekala internasional kubu Kapitalis Barat yang dipimpin Amerika Serikat dan Sosialis Timur oleh Uni Soviet pengiriman belajar tadi juga berhasil menjamah daerah-daerah kubu sosialis seperti Eropa Timur, Hungaria, dan Korea Utara.
Sayangnya, persoalan meraih tujuan menjadi negara yang berdiri diatas kaki sendiri, perbaikan taraf pendidikan, ekonomi dan membangun supremasi politik tidak berhenti pada urusan hubungan internasional saja.
Indonesia, tidak dalam keadaan yang cukup baik dengan krisis ekonomi internal, konflik horizontal, ditambah maraknya aksi separatisme disebabkan ketimpangan sosial. Politik, pandangan atas pribadi Sukarno sendiri kala itu, tentang keberpihakan dan kecenderungan pada Partai Komunis Indonesia berdampak buruk bagi kepemimpinannya sekaligus menimbullkan protes dari kalangan militer. (Hill, 2010)
Pada tahun 1955, satu diantara 5 partai dengan jumlah suara terbesar pemilu tahun itu adalah Partai Komunis Indonesia, hal ini jelas semakin memantik perasaan khawatir lini perpolitikan terutama bagi partai islam. Kondisi perpolitikan di ambang perpecahan menjadi salah satu sebab Sukarno memutuskan segera mengambil kendali dengan memulai masa Demokrasi Terpimpin Indonesia, 5 Juli 1959.
Siapa sangka, tahun Demokrasi Terpimpin adalah tahun-tahun terakhir untuk jaminan hidup dan kembalinya para mahasiswa yang menetap belajar di penjuru dunia. Karena kemelut politik dan pergesekan di tengah krisis masih terus berlangsung hingga mencapai tampuk perselisihan pada peristiwa 1965-1966. Dicirikan dengan Gerakan 30 September pada paruh akhir 1965, sebuah markah merah dalam pemetaan tragedi demi tragedi peristiwa tersebut.
Awal tahun 1966, Surat Perintah Sebelas Maret lebih dikenal lewat akronim Supersemar yang ditanda tangani oleh Sukarno dikeluarkan, memberikan mandat kepada Letnan Jendral Suharto untuk memperbaiki dan mengamankan situasi pemerintahan. Supersemar merupakan pertanda peralihan Masa Demokrasi Terpimpin ke Masa Orde Baru yang berkuasa selama 32 tahun setelahnya.
Orde Baru di latar belakangi Supersemar berarti perubahan dan pengambilan keputusan besar-besaran terhadap penanganan seluruh pihak terkait dalam peristiwa 1965-1966. Dan kebijakan Orde Baru inilah yang memengaruhi masa depan para mahasiswa, muda-mudi bangsa diawal tadi, kebijakan yang membekas lama, bahkan setelah keruntuhan Orde Baru itu sendiri
Instruksi Suharto pada Mei 1966, diwakili Menteri Pendidikan Indonesia Sarino Mangunpranoto kepada para mahasiswa Indonesia, dan budayawan yang tidak sedang berada di dalam negeri melakukan pemeriksaan dan memberi pernyataan loyalitas kepada pemerintahan Orde Baru. Mereka yang menolak hanya akan mendapat stempel izin pulang ke Indonesia sekali saja. Hal ini mempersulit apabila masa pemakaian paspor telah habis, maka tidak ada lagi kesempatan untuk kembali ke Indonesia dan kehilangan status kewarganegaraan (stateless).
Perubahan kebijakan ini berakibat fatal bagi mahasiswa yang terikat dengan keharusan melanjutkan studi di universitas. (Hill, 2010) Usaha pembelajaran yang dijalani sekian tahun dihadapkan pada pilihan ; kembali, atau tidak sama sekali.
Perihal Nasionalisme Jarak Jauh
“Pentingnya sejarah dalam membangun nasionalisme adalah, sejarah digunakan dalam mempelajari masa lampau untuk menata masa depan agar di kemudian hari kita tidak mengalami hal-hal buruk yang di lakukan oleh bangsa sebelumnya, penanaman paham nasionalisme pun dilakukan dengan cara yang lebih mendalam dengan mengajarkan nilai atau semangat juang pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Sejarah dipelajari juga tidak sekedar menghafal sebuah fakta, tapi memahami keseluruhan fakta sejarah agar bisa mendapatkan nilai penting yang bisa di laksanakan dalam kehidupan sehari-hari dalam semangat mencintai negara Indonesia.”
Pemaparan Bu Amirah Fauziah, guru pelajaran sejarah Indonesia dan sejarah minat Madrasah Aliyah Husnul Khotimah, soal bagaimana sejarah beririsan dengan nasionalisme baik dari pola pengajaran dan kompetensi pemahaman, telah membuka jalan keluar atas keprihatinan Kak Efendy, TNI AD Satuan Yonif 321/GT Kostrad ketika saya mintai tanggapan terhadap nasionalisme generasi muda.
Tentu menjalani kehidupan tanpa kewarganegaraan, dan perlindungan hukum negara asal di tempat asing tidak mungkin kita sebut sebagai persoalan yang mudah. Terlebih bagi para eksil (mereka yang memutuskan atau diputuskan ‘tidak kembali’ mengetahui instruksi presiden) yang mayoritas menggantungkan diri kepada beasiswa pemerintah Indonesia kesulitan ekonomi sangat terasa. Gangguan kejiwaan pun wajar jika terjadi.
“Lahir, besar, melihat dan pernah merasakan langsung kelompok primernya di tempat dengan budaya yang kuat, unsur agama yang kental, dan rasa ketimuran, wujud in group tentunya membuat mereka secara tidak langsung mencari orang-orang yang senasib, sulit sekali menghilang kan rasa sakit hati ya, dikeluarkan untuk sekolah, timbul kesan dimanfaatkan pengorbanannya lalu tidak boleh pulang, sampai sekarang juga masih ada” Seperti itulah tanggapan Bu Marlianti selaku pengajar pengampu mata pelajaran sosiologi di Madrasah Aliyah Husnul Khotimah tentang pernyataan saya soal keadaan kelompok eksil terdampak pasca peristiwa 1965-1966.
Pada nyatanya, keterlepasan para eksil dari ikatan kewarganegaraan dan naungan hukum yang tentunya telah menyinggung hak asasi warga negara mereka, tidak serta merta melenyapkan keterikatan batin, kerinduan dan kecintaan juga rasa menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Disinilah berlaku teori Benedict Anderson, long distance nationalism mengetahui bahwa aktivitas para eksil di luar negeri masihlah berketerikatan dengan ; Indonesia.
- Restoran Indonesia di Paris
Sebuah restoran Indonesia di Paris, Perancis. Restoran Koperasi Indonesia, diprakarsai oleh 4 pemuda eksil salah satunya sastrawan J.J Kusni adalah eksistensi dalam linimasa keseharian eksil selama tidak dapat izin kembali ke Indonesia. Tulisan di bawah ini diambil dari blog pribadi J.J Kusni, sebagian kecil dari banyak surat-suratnya yang ditulis semasa di sana
Kecuali itu, untuk mendapatkan dana, Koperasi ini dalam statusnya juga menyebutkan diri sebagai penggiat dan mempromosi budaya Indonesia dan Dunia Ketiga. Guna merealisasi ide ini, selain menangani sendiri berbagai pameran foto, lukisan, batik, karya-karya perancang mode Indonesia, pemutaran slide, menggelarkan tari-tarian Indonesia, dan lain-lain… Koperasi juga menggalang kerjasama dengan Travel Agents, Kotapraja dan berbagai LSM serta organisasi yang tertarik pada ide serupa. Hal ini berlangsung sampai sekarang. Sampai detik ini. Berpegang pada ide di statuta pendiriannnya, maka dalam memperingati 26 tahun berdirnya Koperasi Restoran Indonesia,maka Koperasi bekerjasama dengan Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia “Pasar Malam”, berencana akan memenyelenggarakan pameran foto tentangn Indonesia dan bedah buku “l’Indonésie” karya Patrick Blanche [Editions George Naef, Genève, Octobre 2008, 254 hlm]. Buku luks berkulit tebal ini, memperkenalkan Indonesia, terutama pulau-pulau besar tanahair, kecuali Kalimantan. Karya penuh foto dan disertai dengan teks ini ditulis sebagai hasil perjalanan 11 bulan di berbagai pulau Indonesia. Dari Sumatra sampai Papua. Foto-foto Patrick Blanche ini pulalah yang akan dipamerkan di Koperasi pada kesempatan peringatan ulta ke-26 pada 15 Desember 2008 nanti. Diharapkan orang-orang KBRI Paris yang rencananya seperti biasa diundang secara khusus, akan hadir dalam acara ulta ini. Sementara pembicara dari para Indonsianis Perancis masih sedang dipastikan.
Dari tuturan di atas, akankah berkelebihan menyebut, bahwa “Indonesia hadir selama usia Koperasi di Koperasi Restoran Indonesia “Scop Fraternité” di Paris”? Paling tidak demikianlah yang diinginkan dan selalu dicoba diujudkan.
- Yayasan Sapu Lidi
Bekas mahasiswa yang dikirim Sukarno melalui program MAHID ke Rumania, 1960 Mintardjo, mendirikan Yayasan Sapu Lidi bertempat Leiden, Belanda. Diskusi isu keindonesiaan yang terbuka bagi para eksil maupun orang yang tertarik diadakan secara rutin dirumahnya sendiri. Rumah Mintardjo seringkali disinggahi oleh orang-orang Indonesia yang melakukan perjalanan singkat ke Belanda. Pasca reformasi 1998, Mintardjo mulai diundang ke KBRI Den Haag. Setelah 30 tahun menjadi eksil, tahun 2001 kemarin Mintardjo dapat kembali menjejakkan kaki di tanah tempat kelahirannya.
- Perayaan Hari Merdeka di Belanda
Lima tahun lalu tanggal 16 Agustus perayaan 70 tahun kemerdekaan Indonesia oleh para eksil lansia di Belanda. Menghadiri undangan Perhimpunan Persaudaraan, mereka memadati Gedung De Schakel, Amsterdam, dengan wajah-wajah berumur namun tetap segar berkharisma. Pada pertemuan bersuasana khidmat itu, Sungkono, Ketua Perhimpunan Persaudaraan itu menyampaikan kata sambutan yang amat mengena dan kerasan
“Kita orang-orang Indonesia yang terhalang pulang yang ada di Belanda, walaupun jauh terpisah dari Tanah Air Indonesia, tetapi tidak terpisah dari bangsa dan rakyat Indonesia. Kita adalah bagian dari bangsa dan rakyat Indonesia, adalah orang-orang Indonesia yang tetap mencintai Tanah Air, bangsa dan rakyat Indonesia, dan senantiasa mempunyai kepedulian terhadap keadaan dan hari depan Indonesia”
Dilansir dari Majalah Tempo Edisi Senin, 17 Agustus 2015. Yuke Marayatih.
Ironi yang tampak ketika mereka yang ditolak negaranya, dicabut paksa hak dan kewajibannya selaku warga negara, diharamkan tinggal di tanah kelahiran mereka, adalah orang yang sama, yang masih berusaha mencintai, menjaga dan mewujudkan rasa cinta tanah air itu baik antar sesama eksil ataupun mengenalkan, membanggakan keindonesiaan yang melekat pada diri mereka ke hadapan dunia. Pada lingkungan baru yang mau tidak mau wajib mereka terima. Nasionalisme luar biasa, yang selama ini seakan berada di balik tabir, tertutupi dan jarang sekali sampai ke pendengaran. Tetapi mempunyai hak yang sama untuk diulas seperti fakta sejarah lainnya, kemudian dijadikan pencerminan terhadap nasionalisme kita kini.
Literasi Sejarah Penanganan Fenomena Keterputusan Informasi Sejarah Pasca Peristiwa 1965-1966
Menjawab keresahan terkait nasionalisme yang tertutupi diatas. Ialah literasi sejarah, dari berbagai sumber literasi sejarah adalah kompetensi dasar yang merujuk kepada kemampuan suatu individu dalam memahami sejarah baik itu lewat tulisan, simbol dan dibuktikan melalui artefak. Literasi sejarah sudah amat populer di kalangan pengajar sejarah luar negeri, sementara Indonesia yang sempat mengalami Tragedi Nol Buku dan literasi yang berada di peringkat 62 dari 70 negara, literasi sejarah belum banyak diberlakukan. Padahal melihat 4 guna sejarah menurut Nugroho Notosusanto, literasi sejarah berperan penting dalam menghasilkan guna rekreatif yang mana menciptakan suasana sejarah adalah hiburan, kesenangan tersendiri yang menggambarkan terjadinya sesuatu di masa lampau. Dan diharapkan ketertarikan itulah yang akan memicu lahirnya guna sejarah inspiratif, dan tentang hal ini saya mewawancarai langsung teman saya Nadiya Khansa, pelajar duduk di kelas XI, MA Husnul Khotimah. Menurutnya literasi sejarah adalah salah satu hal yang membuat kita berkaca dan mengetahui bahwa keadaan sekarang semata disebabkan oleh hal yang telah berlalu, sementara membaca dan menulis membuatnya merasa memiliki kepekaan sendiri, serta kekaguman terhadap para tokoh sejarah. Berdasarkan riset yang saya lakukan dengan metode kualitatif, melalui wawancara, dan studi kasus, Nadiya bukanlah satu-satunya yang mengalami hal ini. Salah seorang pelajar kelas XI IPS 1 di MA Husnul Khotimah, turut menyadari bahwa pentingnya literasi sejarah jelas membuat banyak perubahan, dari mulai membantu berpikir kritis, hingga memahami berbagai perspektif.
Kesenjangan informasi sejarah pada pasca Peristiwa 1965-1966 yang membuatnya tampak samar, tanpa titik terang dan kejelasan. Diduga akibat konflik jangka panjang dapat diatasi dengan mengembalikan peran sejarawan, tim ahli, untuk meneliti ulang, mengulik kesenjangan, keterputusan informasi sejarah dan merangkainya menjadi historiografi yang utuh. Keutuhan ini mencakup pula keterangan dari kedua belah pihak, bernilai objektifitas tanpa pengaruh dan tuntutan dari pihak lain. Maka, fungsi sejarah secara tidak langsung menyentuh aspek hukum pada kajian hak asasi manusia, sejarah dan kelengkapan literatur sejarah akan membantu, menjadi acuan banyak lini dalam mencari peradilan yang seadil-adilnya.
Fiksi Sejarah ; Pewajahan Baru Literasi Sejarah
Lantas kita sampai di pembahasan terakhir yaitu bagaimana cara membangun kepekaan terhadap Literasi Sejarah di era kemajuan teknologi yang perlahan menggeser Budaya Literasi?
Fiksi Sejarah hadir dengan daya tariknya, mempersatukan karya sastra fiksi beralur bebas dan latar belakang historis memungkinkan sejarah dinikmati dengan cara yang lebih menyenangkan, perekaan ulang sejarah dibarengi lisensia puitika dari sastra dalam penokohan mendekatkan sejarah yang terjadinya bertahun-tahun lalu kepada kita sekarang. Maraknya novel-novel remaja membuat karya sastra dituntut memiliki daya saing, fiksi sejarah melihat pemaparan barusan jelas mempunyainya. Fiksi sejarah yang saat ini sedang ramai diperbincangkan baik kalangan muda ataupun para kritikus sastra adalah Novel Laut Bercerita Leila S. Chudori berlatar peristiwa penculikan dan penghilangan aktivis tahun 1998.
Sebenarnya jenis karya sastra fiksi sejarah sudah sejak lama beredar di Indonesia, sebelum tahun 1965-1966 sekalipun. Roman Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer contohnya, fiksi sejarah yang sempat di bredel dan menjadi karya terlarang pada waktu pemerintahan rezim Orde Baru, sekarang telah mencapai suksesi berderet penghargaan dan pengakuan kancah internasional. Kisah Minke dan Annelies masa penjajahan Belanda di Tanah Hindia sudah di alih wahanakan ke dalam bentuk film, dan cerita akhirnya diperankan oleh aktor dan aktris kebanggaan, dipertunjukkan secara teatrikal mengangkat judul pementasan Bunga Akhir Abad.
Menampilkan latar Peristiwa G 30 S/PKI 1965-1966, Revolusi Perancis 1968, dan Kerusuhan Mei 1998 Novel Pulang karya Leila S. Chudori, mengungkit Nasionalisme Jarak Jauh Eksil Indonesia di Paris kepada pembaca. Leila menciptakan narasi rapi nan apik mengenai aktivitas eksil, dan mengarahkan lisensia puitika melalui penokohan yang kuat. 4 sosok pendiri Restoran Rue de Vugirard di kisahkannya sebagai 4 Pilar Tanah Air, Dimas Suryo, Nugroho Dewantoro, Risjaf dan Tji Sin Soe. Detail mulai dari latar belakang peristiwa sampai kemunculan eksil terdapat dalam buku yang ditulis lewat perspektif masing-masing tokohnya, ciri khas yang mirip dengan novel Leila Laut Bercerita. Novel Pulang sejatinya narasi sarat perjuangan hidup eksil dan perjalanan meraih ‘pulang’ ke Indonesia.
Wawancara daring saya menanyai FS, pelajar yang duduk di kelas XI MA Husnul Khotimah, seorang pembaca Novel Pulang, dia mendefinisikan hebatnya novel ini dengan kalimat
“Bagaimana, rasanya mencari pulang saat kau tahu tidak diterima di ‘Pulang’. Dan pada akhirnya kau bisa pulang, namun sebatas raga yang bercampur tanah dengan tanah.”
Mengetahui perihal penerimaan dan eksistensi serta pengaruh karya sastra fiksi sejarah, tidak ada salahnya apabila kita mencoba menjadikan fiksi sejarah ini sebagai pewajahan baru literasi sejarah. Penampilan (visualisasi) yang membersamai kemajuan teknologi dan generasi dengan kemajuan perkembangan penulisan fiksi sejarah, berusaha membaca, memperbaiki dan menghasilkan karya-karya selanjutnya.
Penutup
Melihat kesenjangan informasi sejarah pada nasionalisme jarak jauh eksil Indonesia maka bisa ditarik keimpulan bahwa literasi sejarah sangat dibutuhkan. Manusia sebagai pelaku sejarah selayaknya mempertahankan dan memastikan keutuhan sejarah dengan menghapuskan kesenjangan informasi tersebut. Literasi dalam perwujudan Fiksi Sejarah adalah usaha mencapai keutuhan informasi dalam suatu peristiwa sejarah.
Mengingat kalimat Cicero Historia Vitae Magistra. Sejarah adalah guru terbaik dalam kehidupan. Manusia untuk kesekian kalinya diminta berkaca pada hal-hal yang terjadi di masa lampau, tiap-tiap kejadian yang telah mengajari dan mengantarkan kita kepada situasi sekarang.
0 Comments