EDUKASI BERBASIS SOSIOKULTURAL: REFLEKSI PENANGANAN PANDEMI DI HINDIA BELANDA 1918

Published by KIR HK on

Penulis : Muhammad Afnan Ahzami

Ditulis pada tahun 2021

Pendahuluan

            Dua tahun belakangan, masyarakat dunia digemparkan dengan wabah penyakit yang berasal dari Wuhan, Cina. Pada awal bulan Desember, seorang pasien didiagnosis mengalami pneumonia yang tidak biasa. Pada 31 Desember, kantor regional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Beijing menerima laporan mengenai beberapa pasien yang mengalami pneumonia yang tidak biasa di kota yang sama (Paules, dkk. dalam Purwanto, 2020). Wabah yang mengakibatkan pneumonia ini atau disebut sebagai virus coronavirus (SARS-CoV-2) menyebar dengan cepat melalui transmisinya melewati udara. Pada tanggal 2 Maret 2020, Pemerintah Indonesia kemudian menyatakan kasus pertamanya yang menjangkiti dua wanita yang masing-masing berumur 31 dan 64 tahun. Tak lama setelah itu, pada tanggal 11 Maret 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan bahwa virus COVID-19 (Corona Virus Desease) adalah pandemi global. Dalam waktu kurang dari tiga bulan, Covid-19 telah menginfeksi lebih dari 126.000 orang di 123 negara, dari Asia, Eropa, AS, hingga Afrika Selatan (Kompas, 2020).

            Per tanggal 5 Mei 2021, ada 1.691.658 kasus terkonfirmasi positif di Indonesia. Pandemi Covid-19 merupakan masalah yang tidak bisa diselesaikan hanya melalui kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah saja. Menurut Budi Gunadi Sadikin Menteri Kesehatan Republik Indonesia, perlu gerakan bersama yang dilakukan secara masif oleh seluruh elemen masyarakat dalam menangani pandemi covid-19. Pemerintah Indonesia telah memberikan himbauan-himbauan kepada masyarakat dalam mengatasi wabah ini agar berjalan efektif dan efesien. Tetapi pada kenyataannya masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak mengindahkan himbauan ini (Dana, 2020). 

            Menurut Dana, banyaknya masyarakat Indonesia yang tidak mematuhi himbauan dari pemerintah untuk menanggulangi pandemi ini diakibatkan oleh terjadinya bias kognitif. Bias kognitif adalah kesalahan sistematis dalam berpikir yang memengaruhi keputusan dan penilaian yang dibuat seseorang. Salah satunya adalah bias konfirmasi, yaitu kecenderungan untuk mencari informasi yang mendukung keyakinan sendiri (theconversation, 2020).  Seperti halnya seseorang yang tidak memercayai adanya pandemi lalu mencari artikel-artikel yang mengaitkan antara pandemi dengan konspirasi dan konflik kepentingan politik.

            Bias kognitif ini kemudian memiliki sangkut-paut dengan kebudayaan masyarakat Indonesia dan tanggapannya terhadap pandemi. Mengutip dari artikel pespensos (2020) bahwa salah satu faktor penghambat bahkan memperburuk penanganan pesebaran covid-19 adalah anakronisme perspektif atau cara pandang yang kurang tepat dalam menyikapi pandemi ini, seperti halnya bias kognitif. Sebagai contoh, yaitu konstruksi pemahaman keagamaan masyarakat yang berlawanan dengan protokol pencegahan covid-19, di antaranya adalah narasi yang menyangkut teologi kematian sebagai hak prerogatif Tuhan, dan sebagainya.

            Terkait hal ini, pemerintah Indonesia dinilai perlu melihat kembali sejarah di masa lampau sebagai pelarajan untuk penanganan pandemi covid-19. Khususnya pada tahun 1918-1920 ketika Hindia Belanda diinfeksi oleh virus influenza Tipe A dengan subtipe H1N1 yang dengan cepat menyebar ke dunia dan diperkirakan menjadi virus influenza terganas dalam dunia kesehatan (Dewi, 2013). Terhitung hampir 40 juta korban dalam peristiwa tersebut di seluruh dunia (Yeuh-Ming Loo, 2007). Bahkan sebagian pihak mengklaim korbannya berkisar 100 juta orang meninggal. Namun banyak peneliti setuju bahwa korban pandemi Influenza atau Flu Spanyol sejumlah 20­-50 juta orang (Wibowo, dkk, 2009).

            Penanganan pandemi Flu Spanyol di Hindia Belanda pun tidak bisa dibilang sebagai penanganan yang baik, diakibatkan sarana teknologi bahkan alat-alat kedokteran yang belum cukup memadai di masa itu. Fenomena bias kognitif dan anakronisme perspektif di tengah masyarakat pun cukup kental, apalagi ditambah dengan banyaknya masyarakat yang memiliki kepercayaan metafisik. Seperti berdoa di tempat-tempat sakral yang terjangkit wabah. Hal itu dilakukan sebagai bentuk upaya pengusiran wabah dikarenakan sebagian masyarakat percaya bahwa pandemi di masa itu sebagai roh-roh jahat atau hantu penunggu suatu tempat (Khodafi, dkk, 2020).

            Hal ini mengisyaratkan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk lebih gencar mengedukasi masyarakat terkait pandemi bersamaan dengan menerapkan aturan-aturan yang berkenaan dengan protokol kesehatan. Upaya-upaya sosialisasi melalui perangkat kampung dan desa, yang didasarkan edukasi berbasis sosiokultural menjadi solusi efektif di antara pandemi dan bias kognitif masyarakat. Urgensi dari penggunaan metode edukasi berbasis sosiokultural adalah bagaimana menempatkan masyarakat dan budaya menjadi inspirasi. Kebiasaan sosial, kepercayaan, nilai, dan bahasa merupakan bagian yang membentuk identitas dan realita seseorang. Oleh karena itu pola pikir seseorang didasarkan pada latar belakang budayanya (Ferryka, Fembriani, 2018).

Relevansi Pendekatan Edukasi Berbasis Sosiokultural di Indonesia

            Edukasi berbasis sosiokultural berangkat dari kondisi kemasyarakatan di Indonesia yang tidak pernah lepas dari budaya. Mengutip dari laman KBBI Daring, sosiokultural diartikan sebagai hal yang berkenaan dengan segi sosial dan budaya masyarakat. Dengan demikian, edukasi berbasis sosiokultural dapat diartikan sebagai upaya edukasi atau sosialisasi, terkhusus sesuai dengan maksud penulis dalam artikel ilmiah ini yaitu dalam konteks penanganan pandemi, yang didasarkan atas segi kemasyarakatan dan kebudayaan. Menurut Tylor dalam H.A.R Tilaar (2002: 39) budaya atau peradaban adalah suatu keseluruhan yang kompleks dari pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat, serta kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.

            Dalam upaya menanggulangi penyebaran virus, pendekatan kultural harus dilakukan karena cara ini paling dekat dan menjadi bagian integral dalam kehidupan masyarakat (Kompas, 2020). Sebagai entitas yang dinamis dengan segala kompleksitas yang dihidupi oleh masyarakat (William dalam Barker, 2000), budaya dapat diubah meskipun membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan butuh pendekatan persuasif. Hal ini sejalan dengan teori belajar sosiokultur yang dikemukakan oleh Lev Vygotsky. Teori yang juga disebut sebagai teori konstruksi sosial ini menekankan bahwa intelegensi manusia berasal dari masyarakat, lingkungan dan budayanya. Teori ini juga menegaskan bahwa perolehan kognitif individu terjadi pertama kali melalui interpersonal (interaksi dengan lingkungan sosial) dan intrapersonal (internalisasi yang terjadi dalam diri sendiri). Pengetahuan yang didapat individu melalui proses edukasi (baca: pendidikan) bukanlah sesuatu yang sudah ditentukan, melainkan suatu proses pembentukan. Semakin banyak orang berinteraksi dengan objek dan lingkungannya, maka pengetahuan dan pemahaman terhadap objek dan lingkungan tersebut akan meningkat dan lebih rinci (Ferryka, Fembriani, 2018).

Edukasi Berbasis Sosiokultural di Hindia Belanda

            Pada tahun 1918-1920, Pemerintah Hindia Belanda melakukan berbagai upaya dalam mencegah pesebaran virus influenza, seperti membentuk tim khusus yang menangani masalah pandemi influenza di bawah kepala Dinas Kesehatan Rakyat (Burgerlijke Gezondheid Dienst), menciptakan kebijakan melalui undang-undang yang harus ditaati oleh masyarakat, juga melalui jalur kesenian berbasis sosiokultural. Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1920 melalui Balai Pustaka menerbitkan buku berjudul Lelara Influenza yang menggunakan bahasa dan tulisan Jawa disertai gambar-gambar punakawan. Buku tersebut berisi informasi-informasi terkait virus influenza dan cara pencegahannya dengan pendekatan kesenian jawa. Hal ini adalah bentuk propaganda kesehatan yang digencarkan Pemerintah Hindia Belanda melalui pendekatan sosial-budaya guna masyarakat dapat memahami secara menyeluruh tentang pencegahan pandemi melalui pendekatan keilmuan dan hiburan yang ada di dalam buku tersebut. Isi buku pedoman ini mampu memberikan kebijaksanaan agar masyarakat yang terserang virus influenza segera (1) memeriksakan diri ke dokter; (2) tidur sambil berdiri; dan (3) tidak mandi (Santoso, 1992, hlm 101).

Gambar 1.0 Pesan-pesan kesehatan dalam buku lelara influenza

Terjemahan:

… Influenza bisa mengakibatkan sakit panas dan batuk, mudah menular, asalnya dari abu atau debu, berhati-hatilah jangan sampai bertindak ceroboh yang bisa mengakibatkan munculnya debu… Orang yang terkena panas dan batuk tidak bolek keluar rumah, harus tidur atau istirahat saja. Badannya diselimuti sampai rapat, kepalanya dikompres, tidak boleh mandi…” (Wibowo, dkk, 2009, hlm 202).

            Buku lelara influenza menceritakan tentang si Gendut dan Si Panjang yang ingin meminang seorang wanita, yaitu seriati. Sayembara yang diumumkan oleh Ayah Seriati adalah barangsiapa yang dapat menyembuhkan penyakit flu maka akan diperbolehkan meminang putrinya. Cerita ini diadaptasi dari epos Ramayana ketika Rama berusaha mengambil hati Dewi Sinta lewat sayembara unjuk kebolehan (Tempo, 2020).Tubagus Arie Rukmantara, sejarawan epidemi menyebutkan bahwa buku lelara influenza disusun dalam bentuk percakapan di antara tokoh-tokoh punakawan yang populer di tengah masyarakat. Salah satunya adalah kutipan percakapan si Panjang yang berisi:

“Apa kalian terkena sakit kromo? Jika ada gejala demam dan batuk, itu namanya penyakit influenza. Hindari angin, makan bubur, minum air hangat. Istirahatlah di rumah. Jika tubuh terasa kuat setelah satu pekan, baru boleh keluar.”

            Melihat bentuk dan isi dari buku lelara influenza, diduga buku ini ditujukan kepada para dalang agar mereka dapat menyampaikan kembali informasi kesehatan di dalamnya lewat pertunjukan wayang. Pemerintah kolonial saat itu berharap kampanye kesehatan dapat lebih mudah tersalurkan dengan bahasa yang lebih bebas dan informal (Wibowo, dkk, 2009). Informasi dalam buku itu dikemas tim kesehatan pemerintah kolonial dan disebarluaskan oleh Direktur Pendidikan dan Agama (Onderwijs en Eeredients) (Tempo, 2020).

            Upaya edukasi berbasis sosiokultural di masa itu menjadi solusi efektif di tengah kepercayaan masyarakat terhadap takhayul dan informasi-informasi salah yang beredar. Menurut Bonnie Triyana yang seorang sejarawan, pada zaman dahulu jenis berita bohong akibat pandemi di antaranya mengenai vaksin untuk virus dibuat dari darah. Ada juga kepercayaan takhayul di masyarakat seperti menggambar di dinding rumah mereka sebagai bentuk penolakan terhadap penyebaran wabah.

Gambar 2.0 Lukisan-lukisan dinding sebagai bentuk penolakan wabah

            Berkembangnya berbagai macam kepercayaan atau takhayul dan ritual adat yang dilakukan masyarakat untuk mengusir atau menghilangkan wabah influenza yang sedang terjadi di berbagai daerah menandakan bahwa wabah ini merupakan sebuah masalah yang membutuhkan perhatian khusus dari masyarakat. Wabah ini secara tidak langsung telah menimbulkan suatu bentuk kekhawatiran dalam diri masyarakat (Dewi, 2013). Namun kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal metafisik dan takhayul tidak menjadikan masyarakat berani untuk kembali melakukan kontak langsung dengan masyarakat lain (Khodafi, dkk, 2020).

            Hal inilah yang menjadi perbedaan dengan kondisi masyarakat Indonesia ketika dilanda pandemi covid-19. Merebaknya jalur informasi melalui jaringan digital membuat masyarakat kesulitan untuk memahami mana fakta yang aktual dan mana berita-berita bohong. Fenomena bias kognitif dan anakronisme perspektif di sisi ini menjadi sangat mungkin terjadi apabila masyarakat tidak selektif dalam memilah informasi yang beredar, terutama dalam ruang media sosial. Perbedaan antara persepsi masyarakat dan tanggapannya terhadap pandemi di masa Flu Spanyol dan covid-19 adalah bagaiamana kejadian bias kognitif yang terjadi pada masa pandemi covid-19 justru membuat masyarakat semakin berani untuk melakukan kontak tatap muka. Seperti fenomena bias tindakan dimana masyarakat akan membenarkan tindakan yang dilakukan oleh mayoritas orang mau itu benar ataupun salah, misalnya adalah kegiatan paguyuban atau berkumpul untuk mengobrol tanpa mengindahkan protokol kesehatan.

            Penerapan edukasi berbasis sosiokultural menjadi urgensi baru terhadap isu bias kognitif dan anakronisme perspektif di tengah masyarakat Indonesia pada masa Pandemi covid-19. H.A.R Tilaar (2002: 51) mengutip pendapat yang diambil dari John Gillin menulis bahwa perkembangan kepribadian manusia dalam kebudayaan  dilihat dari pandangan behavorisme dan psikoanalitis diantara lain adalah:

  1. Kebudayaan memberikan kondisi yang disadari dan yang tidak disadari untuk belajar.
  2. Kebudayaan mendorong secara sadar ataupun tidak sadar akan reaksi-reaksi kelakuan tertentu.

            Dengan sosialisasi penanganan pandemi covid-19 melalui segi kemasyarakatan berbasis kebudayaan, pemahaman masyarakat terkait pandemi dapat meningkat dan fenomena-fenomena bias kognitif dan anakronisme dapat dikurangi yang kemudian berimbas terhadap cepatnya penanganan pandemi covid-19. Hal ini selaras dengan isi dari buku lelara influenza di mana di dalam cerita buku tersebut si Panjang mengalahkan si Gendut dikarenakan si Gendut masih menggunakan jimat-jimat untuk melawan influenza sedangkan si Panjang sudah menggunakan ilmu pengetahuan, yaitu penggunaan Pil Bandoeng sebagai obat.

      Penerapan edukasi berbasis sosiokultural dapat diterapkan dan diimplementasikan melalui berbagai bentuk. Seperti pemanfaatan budaya populer atau produk-produk kultural yang digemari untuk membangun kewaspadaan masyarakat tentang bahaya pandemi dan mensosialisasikan sopan-santun kebiasaan baru (Kompas, 2020). Penggunaan platform media sosial, iklan, musik, sastra, dan sebagainya adalah berbagai jenisnya. Sebagai syarat agar produk edukasi berbasis sosiokultural menjadi efektif dalam fungsi edukasinya, konten harus persuasif, representatif, dekat dengan keseharian, menarik secara visual, sederhana namun padat makna dan mudah dicerna oleh masyarakat (Kompas, 2020).

            Selain itu diperlukan juga peran dari aktor-aktor budaya dan tokoh adat sebagai mitra kesehatan karena secara sosial-kultural mereka memiliki pengaruh di masyarakat. Pendekatan melalui segi kesenian pun dapat diterapkan, dari seni lukis hingga budaya adat daerah terkait sehingga edukasi menjadi lebih komprehensif. Penerapan edukasi berbasis sosiokultural dapat berdampak positif terhadap upaya sosialisasi pencegahan covid-19, utamanya adalah karena karakteristik masyarakat Indonesia yang lekat dengan budaya sehingga memberikan ruang kosong untuk upaya edukasi di dalamnya.

Kesimpulan

            Penanganan pandemi Flu Spanyol di Hindia Belanda pada tahun 1918-1920 seharusnya dapat menjadi refleksi dan pelajaran untuk pencegahan pesebaran virus covid-19, terkhusus di Indonesia. Upaya-upaya edukasi dan sosialisasi yang digencarkan pemerintah sebagai bentuk pemberian pemahaman terhadap masyarakat terkait pandemi selayaknya beradaptasi dengan karakteristik masyarakat itu sendiri. Edukasi berbasis sosiokultural menjadi solusi efektif dikarenakan selain penguatan dalam pelaksanaan kebijakan tentang protokol kesehatan, upaya edukasi merupakan salah satu bentuk penananaman kesadaran masyarakat, khususnya dalam hubungannya dengan persepsi masyarakat dan tanggapannya terhadap pandemi. Edukasi berbasis sosiokultural juga merupakan bentuk dari usaha-usaha pemerintah dalam mengatasi bias-bias kognitif dan tindakan yang berdampak buruk terhadap penanganan pesebaran covid-19. Diharapkan dengan penerapan edukasi berbasis sosiokultural, khususnya di masa pandemi covid-19 sebagai bentuk refleksi penanganan pandemi Flu Spanyol, masyarakat dapat lebih mengerti terkait informasi tentang pencegahan virus dan pelaksanaan protokol kesehatan melalui pendekatan budaya dan kemasyarakatan, sehingga berimbas baik terhadap penanganan pandemi covid-19.

DAFTAR PUSTAKA

Hanny, S (2020). Serba Serbi Perilaku dan Persepsi Masyarakat Indonesia Dalam Menghadapi Pandemi Covid-19. Diakses dari https://puspensos.kemensos.go.id/serba-serbi-perilaku-dan-persepsi-masyarakat-indonesia-dalam-menghadapi-pandemi-covid-19

Cara Menghadapi Bias Kognitif yang Hadir Selama Pandemi covid-19. Diakses dari https://theconversation.com/cara-menghadapi-bias-kognitif-yang-hadir-selama-pandemi-covid-19-141606#:~:text=Bias%20kognitif%20adalah%20kesalahan%20sistematis,seperti%20menimbun%20tisu%20kamar%20mandi.

Ellyvon, P. (2020). Berbagai Respon Rakyat Untuk Pemerintah Terkait Penanganan Covid-19. Diakses dari https://www.kompas.com/sains/read/2020/04/02/100200323/berbagai-respons-rakyat-untuk-pemerintah-terkait-penanganan-covid-19?page=all

Nur Rohmi A (2020). Bagaimana Pemerintah Hindia Belanda Menghadapi Pandemi? Diakses dari https://www.kompas.com/tren/read/2020/09/01/173500365/bagaimana-pemerintah-hindia-belanda-menghadapi-pandemi-?page=all

Belajar dari Flu Spanyol 1918 Pemahaman Literasi dan Perubahan Perilaku menjadi Kunci Penanganan Pandemi. Diakses dari https://covid19.go.id/p/berita/belajar-dari-flu-spanyol-1918-pemahaman-literasi-dan-perubahan-perilaku-menjadi-kunci-penanganan-pandemi

(2020) Virus Corona dan Pandemi Flu Spanyol: Wabah pada 1918 Menewaskan 50 Juta Orang, Bagaimana Perubahan Dunia Saat Itu dan Apa yang dapat Dipelajari Sekarang. Diakses dari https://www.bbc.com/indonesia/dunia-52458628

Moyang Kasih D (2020). Yang Berubah di Hindia Belanda Setelah Flu Spanyol Berlalu. Diakses dari https://majalah.tempo.co/read/selingan/160444/yang-berubah-di-hindia-belanda-setelah-flu-spanyol-berlalu

Muhammad S (2020). Kisah Flu Spanyol Tahun 1918 di Hindia Belanda Diakses dari https://www.republika.co.id/berita/q7ofen385/kisah-flu-spanyol-tahun-1918-di-hindia-belanda-1-part1

Sejarawan Paparkan Miripnya Pandemi Covid-19 dengan Flu Spanyol 1918. Diakses dari https://nasional.kompas.com/read/2020/08/01/14303411/sejarawan-paparkan-miripnya-pandemi-covid-19-dengan-flu-spanyol-1918

Teori Kultur. Diakses dari http://staffnew.uny.ac.id/upload/198407242008122004/lainlain/TEORI+KULTUR.pdf

Pendekatan Budaya Sebagai Alternatif Memutus Rantai Penyabaran Covid-19? Diakses dari https://www.kompas.com/tren/read/2020/12/14/135811965/pendekatan-budaya-sebagai-alternatif-memutus-rantai-penyebaran-covid-19?page=all

(2020) Kapan Sebenarnya Corona Pertama Kali Masuk RI. Diakses dari https://news.detik.com/berita/d-4991485/kapan-sebenarnya-corona-pertama-kali-masuk-ri

Tsarina M (2020). Menkes: Pandemicovid-19 Masalah yang Sangat Besar, Harus Diselesaikan Bersama Diakses dari https://nasional.kompas.com/read/2020/12/25/21263581/menkes-pandemi-covid-19-masalah-yang-sangat-besar-harus-diselesaikan-bersama?page=all

https://covid19.go.id

https://kbbi.kemdikbud.go.id

Buana, D. (2020) Analisis Perilaku Masyarakat Indonesia dalam Menghadapi Pandemi Virus Corona (Covid-19) dan Kiat Menjaga Kesejahteraan Jiwa. Salam; Jurnal Sosial & Budaya Syar-I 7(3) 217-226.

Khodafi, M, dkk. (2020). Kilas-Balik Wabah di Indonesia: Mengurai Kembali Pandemi Covid-19 Melalui Peristiwa Flu Spanyol 1918-1920. SULUK: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya 2(2)

Cipta, S. (2020) Upaya Penanganan Pemerintah Hindia Belanda Dalam Menghadapi Berbagai Wabah Penyakit di Jawa 1911-1943. Jurnal Candrasangkala 6(1)1-21

Dewi, N.  Alrianingrum, S. (2013) Wabah Influenza di Jawa Tahun 1918-1920. AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah 1(2) 132-142

Ferryka, P, Fembriani (2018). Pembelajaran Tematik Integratif Berbasis Sosiokultural Untuk Meningkatkan Hasil Belajar  Siswa Kelas 1 SD N 4 Barenglor Klaten. EDUKASI : Jurnal Pendidikan 10(1) 15-30

Categories: KARYA SANTRI

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *