Oleh : Ghaisan Dzaky, Faris Abbad, dan Muhammad Shiddiq Alghozali
LATAR BELAKANG
Indonesia terletak pada kondisi geografis yang begitu strategis karena berada di jalur perdagangan di Asia Tenggara.Perekonomian Indonesia tahun 2025 berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp23.821,1 triliun dan PDB per kapita mencapai Rp83,7 juta atau USD 5.083,4, yang membuat Indonesia sebagai salah satu negara dengan ekonomi terbesar di ASEAN. Statistik pertumbuhan ekonomi ini meyakinkan bangsa Indonesia yang diperkirakan akan mendapat bonus demografi pada tahun 2045 kelak. Kondisi ini menyadarkan pemerintah Indonesia agar terus berusaha meningkatkan kualitas SDM yang ada di Indonesia. Pendidikan adalah kunci utama agar perekonomian Indonesia dapat bertumbuh secara masif. Beasiswa adalah solusi investasi jangka panjang yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan perekonomian. Namun pada kenyataannya berdasarkan data Human Capital Index dari World Bank, skor Human Capital Index Indonesia sebesar 0,54%, yang berarti anak yang lahir di Indonesia hanya akan mencapai 54% produktivitas potensialnya. Hal ini terjadi dikarenakan kualitas pendidikan di Indonesia masih rendah. Sebagian penerima beasiswa di Indonesia berpotensi mengalami brain drain yang menjadi salah satu faktor penghambat pada pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
Salah satu fenomena brain drain yang pernah cukup ramai diperbincangkan di media sosial adalah #kaburajadulu. Hal ini mengindikasikan bahwa tren yang terjadi dapat memengaruhi inclusive growth di Indonesia. Beasiswa yang seharusnya menjadi perantara untuk meningkatkan human capital di dalam negeri, justru menjadi tiket untuk berkareir ke luar negeri. Ini merupakan “lubang” yang tercipta pada pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Seharusnya para lulusan beasiswa kembali untuk mengambil peran pada pertumbuhan ekonomi (economic growth) di Indonesia, akan tetapi para talenta berbakat malah lebih memilih bekerja untuk meningkatkan perekonomian luar negeri.
Stagnasi ekonomi inilah yang membuat banyak orang mengalami kesulitan untuk meningkatkan status ekonominya. Data dari SMERU Research Institute (2022) menunjukkan bahwa keluarga miskin di Indonesia membutuhkan waktu selama 4 sampai 5 generasi untuk mencapai kelas menengah. Tantangan terbesarnya adalah ketimpangan kualitas pendidikan, kesenjangan tempat tinggal, serta adanya dominasi sektor non-formal sebesar 59,11% (BPS 2023). Lebih buruknya lagi aktivitas ekonomi nyaris terpusat pada pulau Jawa, menurut laporan Kementerian Keuangan (2024) dominasi pulau Jawa mencapai sekitar 57-58% PDB nasional. Akibatnya, timbul keresahan sosial seperti #kaburajadulu dari tidak meratanya peluang ekonomi. Alih-alih memperkuat human capital domestik, sebagian penerima beasiswa justru memilih berkontribusi pada perekonomian luar negeri. Hal ini pun akhirnya menghambat inclusive growth yang berkesinambungan di Indonesia.
Jika hal ini terus berkelanjutan, maka akan menjadi sebuah ancaman yang nyata pada pertumbuhan inklusif pada tiap lapisan masyarakat. Bagaimana jadinya jika para agen perubahan justru tidak ikut andil dalam ekosistem domestik? Karena itulah peran negara dalam investasi pendidikan perlu “menampung” dan “menghargai” selain dari terus-menerus “mencetak” talenta berbakat yang pergi sehingga yang tersisa hanyalah sebuah narasi kosong belaka.
ISI
Indonesia diproyeksikan akan mendapatkan bonus demografi pada tahun 2045, namun pertanyaanya adalah apakah bangsa Indonesia sendiri sudah siap untuk menghadapi bonus demografi tersebut? Realitanya, kondisi Indonesia sekarang jauh dari kata siap untuk memaksimalkan bonus demografi yang akan didapatkan kelak. Menurut kami, salah satu unsur terpenting dalam pembangunan negara adalah pendidikan untuk meningkatkan kemampuan dan kreativitas masyarakat Indonesia terutama untuk para generasi muda. Pendidikan merupakan salah satu investasi terbesar sebagai tolak ukur untuk melihat kemajuan sebuah negara dari kualitas pendidikan negara tersebut. Segala program pemerintah yang ada menurut kami masih belum semuanya efektif untuk terus meningkatkan kualitas SDM di Indonesia.
Salah satu program yang perlu digarisbawahi untuk mengejar ketertinggalan human capital adalah program beasiswa. Namun pada pelaksanaannya, beasiswa yang diberikan dirasa masih belum merata dan belum bisa memutus rantai kemiskinan antar generasi. Padahal, beasiswa ke luar negeri seharusnya menjadi solusi investasi jangka panjang untuk meningkatkan perekonomian di Indonesia. Ironisnya, daripada bekerja di dalam negeri, banyak lulusan terbaik yang lebih memilih untuk tetap tinggal dan bekerja di negara tempat mereka menempuh pendidikan. Fenomena #kaburajadulu di media sosial mempertegaskan bahwa Indonesia masih belum bisa memberdayakan keahlian mereka. Hal ini memicu sebuah pertanyaan besar bagi pemerintah: apakah program beasiswa ini akan menjadi investasi besar untuk economic growth, atau hanya sekadar formalitas catatan saja yang memperlebar “lubang” brain drain yang menghambat inclusive growth di Indonesia?
Dampak dari hilangnya talenta melalui fenomena brain drain tidak hanya berhenti pada angka statistik, melainkan berujung pada kekosongan SDM unggul di sektor-sektor strategis dalam negeri. Menurut Sari dkk. (2025), brain drain adalah perpindahan tenaga profesional dan intelektual dari Indonesia ke luar negeri secara masif. Dari penjelasan tersebut, dapat kita simpulkan bahwasannya yang perlu difokuskan oleh pemerintah kita adalah penguatan sistem yang ditetapkan pasca-kelulusan sehingga dapat mengurangi fenomena brain drain. Pemerintah harus memastikan bahwa penerima beasiswa tepat sasaran dan menyediakan jaminan karir setelah lulus dari perguruan tinggi kepada lulusan yang memiliki komitmen. Dengan adanya kepastian karir antara para lulusan yang berkualitas dan lapangan pekerjaan, fenomena brain drain bisa diminimalisir. Kepastian pasca-studi ini menjadi “penambal lubang” yang terjadi pada sektor perekonomian, sehingga dapat dipastikan adanya peningkatan angka human capital pada generasi muda yang berkualitas di Indonesia, serta dapat memberikan pengaruh besar bagi pertumbuhan ekonomi (economic growth) dari berbagai sektor strategis.
Kekosongan ini sangat disayangkan, karena sejatinya program beasiswa diproyeksikan menjadi ujung tombak investasi human capital yang berdampak luas terhadap pertumbuhan ekonomi, produktivitas, dan inovasi dalam negeri. Menurut World Bank (2024), peningkatan kualitas pendidikan berkontribusi langsung terhadap produktivitas tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang. OECD (2023) menunjukkan bahwa tingkat pendidikan yang lebih tinggi berkaitan dengan peluang kerja dan pendapatan yang lebih baik. Hal ini juga ditekankan oleh UNESCO (2022), setiap tambahan satu tahun pendidikan dapat meningkatkan pendapatan individu sekitar 8–10%, yang menunjukkan bahwa investasi di bidang pendidikan memiliki dampak ekonomi jangka panjang yang signifikan melalui peningkatan produktivitas dan kualitas sumber daya manusia. Hal ini sejalan dengan temuan Patrinos dan Psacharopoulos (2026) yang menunjukkan bahwa tingkat pengembalian (returns to education) secara global berkisar sekitar 10% per tahun. Angka-angka ini membuktikan bahwa investasi di bidang pendidikan seperti program LPDP yang menunjukkan bahwa investasi beasiswa dapat menghasilkan manfaat ekonomi dan sosial jangka panjang bila penerima kembali dan berkontribusi di dalam negeri. Namun, manfaat fiskal dan sosial ini hanya dapat menjadi investasi yang optimal jikalau para lulusan penerima beasiswa kembali dan berkontribusi di dalam negeri, sehingga potensi kenaikan produktivitas tersebut benar-benar mendorong pertumbuhan ekonomi (economic growth) domestik, bukan justru memperkuat perekonomian asing.
Namun, kita harus realistis bahwa meskipun beasiswa memiliki return tinggi secara jangka panjang, dampaknya terhadap PDB seringkali tidak seinstan sektor infrastruktur fisik. Menurut World Bank (2023), infrastruktur bukan sekadar fasilitas fisik, melainkan katalis utama pertumbuhan ekonomi karena mampu meningkatkan produktivitas, memperluas konektivitas pasar, dan membuka akses terhadap peluang ekonomi, sehingga dampaknya terhadap pertumbuhan dan pengurangan ketimpangan jauh lebih cepat dibandingkan investasi jangka panjang seperti pendidikan. Beberapa negara menunjukkan bahwa keterhubungan antara beasiswa, sektor strategis, dan penyerapan kerja dapat memperbesar dampak ekonomi pendidikan. Dapat disimpulkan bahwa beasiswa merupakan fondasi investasi jangka panjang yang harus didukung dari berbagai aspek. Hal ini harus didukung juga dengan kualitas human capital generasi muda dan lapangan kerja berkualitas sebagai jaminan agar program beasiswa ini berjalan maksimal dan mengurangi risiko brain drain. Fenomena brain drain akan terus berkelanjutan karena talenta terbaik mencari peluang terbaik luar negeri, maka dari itu kita harus berani tidak hanya mencatatkan lulusan tapi bagaimana para lulusan tersebut ikut membangun di dalam negeri.
Agar program beasiswa benar-benar meningkatkan kualitas human capital dan mendorong pertumbuhan ekonomi, negara tidak cukup hanya memperbanyak jumlah penerima beasiswa. Hal yang perlu diperhatikan adalah memastikan beasiswa tepat sasaran, selaras dengan kebutuhan ekonomi, dan memiliki dampak pasca-kelulusan. Hal ini juga menjadi langkah strategis untuk mengurangi fenomena brain drain. Beberapa negara menunjukkan bahwa keterhubungan antara beasiswa, sektor strategis, dan penyerapan kerja dapat memperbesar dampak ekonomi pendidikan. Berikut adalah solusi yang kami berikan:
- Negara perlu mengarahkan beasiswa pada sektor-sektor produktif ekonomi seperti teknologi, kesehatan, dan industri produktif. Prioritas ini penting agar pembiayaan negara selaras dengan kebutuhan sektor bernilai tambah tinggi. Menurut World Bank (2024), investasi pendidikan yang selaras dengan kebutuhan industri terbukti mempercepat pertumbuhan ekonomi karena dapat meminimalkan kesenjangan keterampilan (Skill gap).
- Seleksi beasiswa harus mempertimbangkan latar belakang ekonomi dan prestasi. Laporan OECD (2023) menunjukkan bahwa beasiswa yang mempertimbangkan individu yang berprestasi, memiliki potensi, dan latar belakang ekonomi rendah lebih efektif meningkatkan mobilitas sosial dan kualitas tenaga kerja secara keseluruhan. Ini membuat beasiswa berfungsi ganda: meningkatkan kualitas tenaga kerja dan memperluas mobilitas sosial.
- Negara perlu menjamin ikatan kontribusi pasca-kelulusan untuk mengurangi brain drain. Realisasinya seperti program LPDP yang mewajibkan penerima beasiswa untuk kembali ke tanah air dan memberikan kontribusi di dalam negeri. Hal ini sejalan dengan rekomendasi UNESCO untuk memastikan investasi pendidikan memberikan dampak ekonomi domestik yang terukur. Ikatan kontribusi harus dibarengi jalur penempatan kerja yang nyata, agar penerima beasiswa tidak hanya diwajibkan pulang, tetapi juga difasilitasi untuk berkarya.
Berikut adalah pendekatan yang bisa dilakukan pemerintah untuk memperkuat dampak ekonomi:
- Menyediakan program penempatan khusus untuk para lulusan beasiswa sebagai jalur khusus untuk mengisi posisi pemerintahan maupun swasta.
- Memprioritaskan lulusan beasiswa untuk turut ikut andil dalam hilirisasi industri agar inovasi yang dipakai di luar negeri dapat diaplikasikan di dalam negeri.
- Memberikan modal untuk membangun bisnis agar terciptanya lapangan kerja yang baru dan lebih variatif.
Beberapa negara telah menunjukkan bahwa dampak ekonomi pendidikan akan jauh lebih besar ketika program beasiswa berjalan beriringan dengan sektor strategis dan sistem penyerapan kerja yang efektif. Para lulusan beasiswa dapat memberikan dampak ekonomi yang signifikan karena diarahkan untuk bekerja di sektor yang sesuai dengan kebutuhannya, sehingga dana yang telah diinvestasikan pada pendidikan langsung bertransformasi menjadi pertumbuhan ekonomi (economic growth) nasional secara inklusif dan berkesinambungan.
Kesimpulan
Bonus demografi 2045 menjadi peluang besar bagi Indonesia. Akan tetapi, keberhasilannya sangat bergantung pada kualitas human capital. Program beasiswa menjadi investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas SDM, tetapi fenomena brain drain dan ketimpangan akses pendidikan menunjukkan bahwa dampaknya belum optimal bagi pertumbuhan ekonomi dan inclusive growth.
Meskipun beasiswa terbukti memberikan return ekonomi yang tinggi, efektivitasnya bergantung pada ketepatan sasaran, relevansi dengan kebutuhan sektor strategis, serta jaminan kontribusi pasca-kelulusan. Tanpa hal tersebut, lulusan terbaik berpotensi berkontribusi di luar negeri sehingga investasi pendidikan tidak memberikan dampak maksimal bagi ekonomi domestik.
Seleksi berbasis kebutuhan ekonomi, pengarahan pada sektor produktif, serta dukungan penempatan kerja dan kewirausahaan. Dengan strategi tersebut, beasiswa dapat menjadi pondasi dalam memperkuat human capital, mengurangi brain drain, dan mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif menuju Indonesia Emas 2045.
Daftar Pustaka
Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal. (n.d.). https://fiskal.kemenkeu.go.id/
Ekonomi Indonesia tahun 2025 tumbuh 5,11 persen. (n.d.). Badan Pusat Statistik. Retrieved February 5, 2026, from https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/02/05/2546/ekonomi-indonesia-tahun-2025-tumbuh-5-11-persen.html
Gorgulu, N., Foster, V., Jain, D., Straub, S., & Vagliasindi, M. (2023). The Impact of Infrastructure on Development Outcomes: A Meta-Analysis. In World Bank, Washington, DC eBooks. https://doi.org/10.1596/1813-9450-10350
Human capital. (n.d.). World Bank. https://www.worldbank.org/en/publication/human-capital
Nugraheny, D. E. (2025, May 6). Pekerja Informal RI Tembus 59,40 Persen, Anak Muda Paling Rentan PHK. KOMPAS.com. https://money.kompas.com/read/2025/05/06/073000826/pekerja-informal-ri-tembus-59-40-persen-anak-muda-paling-rentan-phk
Ramadhan, G. (n.d.). [FKP hosted by The SMERU Research Institute] Memutus mata rantai kemiskinan: kemiskinan antar generasi dan evaluasi dampak Program Keluarga Harapan (PKH). Forum Kajian Pembangunan (FKP). https://www.fkpindonesia.org/summary-report/kemiskinan-antar-generasi-dan-evaluasi-pkh
Sari, I. P., Al-Phasa, N. F., Muhammad, A. I., Feriansyah, R. A., Rifqi, M., & Zulfika, M. Z. (2025). Ketika Talenta Pergi: Menelisik dampak brain drain terhadap kemajuan Indonesia. Arini Jurnal Ilmiah Dan Karya Inovasi Guru, 2(1), 99–111. https://doi.org/10.71153/arini.v2i1.344
World Bank Group. (2020). Indonesia Human Capital Knowledge Series. In World Bank. https://www.worldbank.org/en/country/indonesia/brief/indonesia-human-capital
Education at a Glance 2023. (n.d.). OECD. Retrieved September 12, 2023, from https://www.oecd.org/en/publications/education-at-a-glance-2023_e13bef63-en/full-report.html
Home – 2023 GEM Report. (2023, November 27). 2023 GEM Report. https://gem-report-2023.unesco.org/
Human capital. (n.d.-b). World Bank. https://www.worldbank.org/en/publication/human-capital
0 Comments