Oleh : Arifa Meiliyan Eka Putri
Ditulis tahun 2022

Latar Belakang

Cirebon adalah sebuah wilayah yang penting dalam perjalanan sejarah Indonesia sebagai negara maritim. Wilayah Cirebon dulunSejak jaman dahulu pelabuhan Cirebon memegang peranan yang strategis dalam perdagangan di wilayah Jawa Barat. Hasil laut seperti udang menjadi salah satu komoditas utama wilayah ini sejak dulu sehingga kota Cirebon dijuluki sebagai kota Udang. Sampai dengan saat ini pun kota Cirebon menjadi pusat perekonomian di wilayah-wilayah sekitarnya seperti, Kuningan, Majalengka dan Indramayu. Tidak heran keberadaannya sudah menyerupai kota metropolitan karena mobilitas masyarakatnya yang cukup padat.

Dalam perjalanan sejarah Islam di Indonesia, Cirebon berperan sebagai pusat penyebaran Islam di Jawa Barat. Daerah-daerah pengaruh Hindu dan Budha di Jawa Barat di-Islamkan oleh penyebar Islam dari Cirebon. Dalam hal ini adalah Sunan Gunung Jati. Diketahui bahwa pendiri Kesultanan Banten dan Cirebon adalah Sunan Gunung Jati (Supriatna, 2018:169)

Sebagaimana daerah-daerah lainnya, Cirebon juga memiliki tokoh-tokoh pahlawan yang memiliki peranan besar terhadap perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Salah satunya adalah Kapten (Anumerta) Samadikun. Sebagai tokoh lokal, mungkin beliau tidak sepopuler Jenderal Soedirman, Soepriyadi ataupun Ahmad Yani. Tapi jasa-jasanya dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dari rongrongan kekuasaan Belanda tidak dapat diabaikan dalam perjalanan sejarah negeri ini.

Pembahasan

A. Peristiwa Pertempuran di Teluk Cirebon 1945-1949

    Peristiwa pertempuran laut di Cirebon terjadi pada tanggal 5 Januari 1947 antara Kapal Gajah Mada melawan kapal Belanda HR MS Kortenaer. Pertempuran ini merupakan ekses perjanjian Linggarjati yang dilakukan Antara pihak RI dengan Belanda dari tanggal 7 – 15 Januari 1946. Eskader Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI)  pada perundingan Linggarjati mendapat tugas sebagai pengaman, pengawal dan pengangkut delegasi Belanda yang datang lewat laut.

    Hasil perundingan itu menimbulkan  pro dan kontra di kalangan tubuh RI, dan berpotensi menimbulkan perpecahan diantara para pejuang. Ditinjau dari Menghadapi situasi seperti itu Panglima Besar Jenderal Sudirman memberikan instruksi untuk tetap waspada dan bersatupadu menghadapi musuh.  

    Sebagai penjabaran dari instruksi Panglima Besar Sudirman, di Cirebon dibentuk Gabungan Komando Bersenjata dan segera mengadakan manuver latihan pada tanggal 4-6 Januari 1947. ALRI pada latihan itu mengerahkan lima buah Kapal dibawah pimpinan Letnan Satu Samadikun. Eskader yang terlibat antara lain KRI Gajah Mada di bawah Komandan Lettu Samadikun, Kapal Patroli P-8 dibawah komandan Lettu Sukamto, Kapal Patroli P-9 di bawah Komandan Lettu Supomo, Kapal Tunda Semar di bawah Komandan Lettu Toto PS dan Kapal Tunda Antareja.

    Tanggal 4 Januari 1947, latihan pendaratan Marinir di Gebang, berjalan lancar di bawah Letda Abdul Kadir. Pada 5 Januari, pasukan eskader keluar jam 06.00 dari Pelabuhan Cirebon menuju Daerah latihan. Pada jarak enam mil terlihat Kapal Belanda HR MS Kortenaer didampingi Kapal Pemburu. Pada jarak empat mil Kapal Belanda mengirim isyarat untuk eskader ALRI agar berhenti, hal itu tidak dipatuhi, bahkan Lettu Samadikun memerintahkan kapal eskader untuk melakukan olah gerak dari formasi lini ke formasi Diamon.

    Melihat manuver itu, kapal Belanda melakukan penembakan terhadap Kapal Patroli  P-8 dan meleset. Lettu Samadikun  mengambil Komando dan memerintahkan unsur eskader melakukan despersi menghindar, sementara KRI Gajah Mada mengambil posisi serang, hal itu dilakukan agar tidak semua eskader mengalami kehancuran.

     Tembakan kedua Kapal Belanda langsung diarahkan ke KRI Gajah Mada tepat ke lambung kanan, hingga rusak dan bocor. Situasi menjadi tidak mungkin bertahan, Lettu Samadikun memerintahkan pasukan meninggalkan kapal, lalu mengambil senjata Kaliber 12,7 mm dan melakukan tembakan balasan. Kapal Belanda menembakkan meriamnya bertubi-tubi ke arah KRI Gajah Mada. Akhirnya peluru ke 12 meriam Belanda menenggelamkannya, bersama Komandan Lettu Samadikun.

    Dalam pertempuran tersebut Indonesia kehilangan satu kapal, tiga pahlawan gugur serta 26 menjadi tawanan Belanda. Tanggal 7 Januari jenazah Lettu Samadikun ditemukan. Dengan upacara militer jenazah almarhum dimakamkan di TMP Kesenden dan dinaikkan pangkatnya menjadi Kapten Laut Samadikun. Untuk mengenang jasanya namanya dijadikan nama jalan di Kota Cirebon.

    Selain di jadikan nama jalan di kota Cirebon Kapten laut Samadikun juga di jadikan nama salah satu kapal perang republik Indonesia dengan nama KRI Samadikun (341).

    Di bangun di Avondale Marine, Westwego, LA, di luncurkan pada tanggal 29 Juli 1953 dan comisooning 5 Mei 1959. Dan dikirim ke Indonesia dengan nama KRI Samadikun pada 20 February 1973, status sekarang pensiun.

    B. Meneladani kepahlawanan Kapten Samadikun sebagai pendidikan karakter di era 5.0

      Masa depan Bangsa Indonesia berada ditangan generasi muda bangsa ini. Indonesia memiliki cita-cita luhur yang harus selalu diperjuangakan, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Dalam upaya mewujudkan cita-cita dan mempertahankan kedaulatan bangsa tentu akan menghadapi banyak rintangan dan hambatan.

      Semangat kepahlawanan harus senantiasa berada di dalam hati para pemuda Indoneisa. Hal itu sejalan dengan pendidikan karakter di era 5.0 ini. Semangat juang yang menggelora, berjiwa nasionalisme dan patriotisme, keberanian, rela berkorban, pantang menyerah, cinta tanah air, dan bergotong-royong harus dijunjung tinggi di manapun kita berada sebagaimana halnya semangat kepahlawanan yang dimiliki oleh Kapten Samadikun dalam pertempuran di teluk Cirebon 1945-1949 tersebut.

      Keberaniannya menghadapi pasukan tentara Belanda yang dari segi persenjataan maupun perlengkapan perang bisa dikatakan lebih modern, tidak menyurutkan semangatnya. Begitu juga sikap rela berkorban dan pantang menyerah yang dimilikinya. Tentu saja semua dilakukan semata-mata demi membela tanah air tercinta. 

      Sudah menjadi tugas kita sebagai generasi penerus bangsa, untuk meneruskan perjuangan para pahlawan yang telah gugur. Banyak cara yang dapat kita lakukan. Salah satunya dengan meningkatkan kualitas Negara Indonesia. Kualitas suatu negara dapat dilihat dari beberapa aspek. Aspek yang pertama yaitu aspek Pendidikan. Hal yang harus diperjuangkan oleh kita sebagai generasi muda di bidang Pendidikan, yaitu dengan rajin belajar dan meningkatkan prestasi di sekolah maupun di perguruan tinggi. Memperbanyak prestasi apalagi di tingkat internasional akan, meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Sistem Pendidikan di Indonesia untuk saat ini memang masih perlu untuk dikembangkan dan diperbaiki kedepannya agar sumber daya manusia yang dihasilkan selain berprestasi juga berkualitas. Berkualitas disini dapat diartikan dengan memiliki pemikiran yang inovatif, tingkat problem solving yang tinggi, mampu berkomunikasi dengan baik dan dapat menggunakan ilmunya untuk kepentingan Bangsa.

      Aspek kedua yaitu aspek Kesehatan. Kesehatan yang dapat kita lakukan saat ini yaitu dengan menjaga pola hidup yang sehat dengan mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi, rajin berolahraga, menjaga kebersihan lingkungan sekitar, dan apabila sedang sakit segera berobat ke rumah sakit atau klinik terdekat agar cepat mendapatkan penanganan. Pola hidup yang sehat akan menjaga kita dari segala bentuk penyakit. Jika banyak generasi muda yang memiliki tubuh yang fit dan kuat, terhindar dari penyakit, mutu kesehatan Indonesia akan meningkat dan mungkin saja bisa meningkatkan angka harapan hidup penduduk Indonesia untuk kedepannya.

      Aspek yang ketiga yaitu dari segi budaya. Indonesia merupakan negara yang luas dan berbentuk kepulauan. Karena berbentuk kepulauan Indonesia terbagi menjadi beberapa daerah dengan masing-masing budaya yang berbeda. Tak jarang, beberapa kebudayaan Indonesia tak luput dari pengaruh penjajahan di Indonesia. Kebudayaan yang beragam ini, dapat dimanfaatkan dengan memperkenalkannya kepada bangsa luar. Banyak hasil kebudayaan Indonesia yang sudah menarik perhatian bangsa luar dan beberapa juga sudah diakui dunia. Dengan cara tersebut, dunia akan lebih mengenal Indonesia. Dari ketigas aspek tersebut, dibutuhkan juga kontribusi dari Pemerintah. Jika generasi muda telah melakukan upaya untuk memajukan bangsa, tetapi Pemerintah Indonesia tidak memberikan dukungan, semua hal tersebut akan terbuang sia-sia.

      Terlepas dari ketiga aspek yang telah dibahas, terdapat beberapa hal yang dapat menjadi dasar perjuangan generasi muda. Memupuk rasa persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Karena Indonesia terbagi menjadi beberapa wilayah, Indonesia memiliki keberagaman suku, agama, bahasa, warna kulit, dan banyak perbedaan lainnya. Dengan adanya perbedaan, Bangsa Indonesia dapat menjadikan hal tersebut untuk melengkapi kekurangan masing-masing. Dengan menghargai perbedaan yang ada, akan tercipta kehidupan berbangsa yang harmonis dan jauh dari segala konflik antar golongan yang mungkin dapat terjadi. Jika rasa persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia kuat, kita tidak akan mudah untuk diadu domba oleh bangsa lain.

      Cara harmonisasi yang paling sederhana dan dapat diterapkan di kehidupan sehari hari yaitu, tidak membeda-bedakan teman, menghargai agama lain saat beribadah, tidak menjelek-jelekkan budaya daerah lain dan masih banyak lagi. Semua itu sesuai dengan Semboyan Indonesia “Bhinneka Tunggal Ika” yang memiliki arti walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Karena sejatinya meskipun warga Indonesia berbeda-beda baik suku bangsa, ras, agama, bahasa daerah dan sebagainya, namun kita tetap satu sebagai Bangsa Indonesia.

      Penutup

      Sejak proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, keadaan dalam negeri Indonesia belum stabil, situasi ini dimanfaatkan oleh Belanda melancarkan agresi sehingga mengakibatkan peperangan antara rakyat Indonesia bersama tentara Indonesia melawan penjajahan Belanda, peristiwa ini biasa disebut dengan istilah perang kemerdekaan. Perang kemerdekaan ini hamper terjadi di berbagai daerah di Indonesia termasuk Cirebon dan Kuningan Jawa Barat. Kota Cirebon adalah kota yang berbasis maritime hingga kota ini menjadi sasaran pihak Belanda untuk masuk ke wilayah Jawa Barat lewat jalur laut.

      Di Cirebon pada awal kemerdekaan sudah terbentuk pasukan angkatan laut atau lazim disebut ALCA III merupakan bagian dari Angkatan laut Indonesia pada waktu itu. Dengan adanya agresi Militer Belanda, sudah menjadi sebuah tugas yang mulia untuk pasukan AL-CA III mempertahankan Cirebon dari serangan Belanda, hingga pertempuran di laut pun tidak bisa di elakan yang pada waktu itu dipimpin oleh kapten Samadikun. Pertempuran tersebut dimenangkan oleh Belanda dengan gugurnya kapten Samadikun. Akibat kekalahan di Cirebon ini berimbas membuat para pasukan AL-CA III terdesak dan dipaksa mundur ke wilayah pegunungan yaitu daerah Kuningan Jawa Barat.

       Pasukan AL-CA III yang mundur ke daerah Kuningan bergabung dengan pasukan angkatan darat untuk melakukan perang gerilya di berbagai daerah di Kuningan. Pertempuran gerilya ini terus dilakukan sampai adanya gencatan senjata dan perjuangan secara diplomasi oleh pemerintah Republik Indonesia untuk menekan Belanda agar mengakui kedaulatan Negara Republik Indonesia. Pertempuran pertempuran gerilya tersebut, menggambarkan kerja sama yang cukup baik antara tentara angkatan darat, angkatan laut dan tentunya masyarakat karesidenan Cirebon, baik yang bergabung dalam laskar-laskar maupun yang hanya berstatus rakyat biasa.

      Perjuangan yang dilakukan oleh angkatan laut bersama dengan elemen-elemen lainnya. Menjadi catatan sejarah tersendiri yang sayangnya mulai pudar seiring berjalannya waktu. Banyak saksi dan pelaku sejarah yang telah wafat dan hanya tersisa monumen-monumen yang menjadi saksi bisu perjuangan para pahlawan lokal demi tercapainya kedaulatan Republik Indonesia. Mengutip dari salah seorang saksi sejarah yang masih hidup, bahwa menggali sejarah lokal bukan hanya terkait bagaimana peristiwa itu terjadi atau tentang tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya, tetapi menggali nilai-nilai yang terdapat dalam peristiwa tersebut. Sehingga generasi muda dapat lebih dekat dengan makna nasionalisme dan diharapkan dapat membentuk jati diri bangsa.

      Menggali sejarah lokal, khususnya terkait dengan peranan angkatan laut di wilayah karesidenan Cirebon, rasanya seperti mencari jarum dalam jerami. Cukup sulit tapi bukan berarti tidak bisa dan selama penelitian ini berlangsung, justru banyak sekali ditemukan sejarah lokal yang tidak tercatat dalam dokumen tertulis. Peristiwa-peristiwa tersebut menunggu untuk digali dan akan menjadi kekayaan bagi khasanah penulisan sejarah lokal.

      DAFTAR PUSTAKA

      Sumber buku:

      N.T.Kartini dan C.Ubaedilah. (2018). Pertempuran Teluk Cirebon.

      Supriatna, Nana.  2018. Sejarah Indonesia untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas X. Bandung: Grafindo.

      Jurnal

      Rickypedia. Kamis, Agustus 14, 2014  Historia: Kapten Samadikun Pahlawan

      Sumber Internet

      Pertempuran laut di Cirebon

      http://rickysetiawan96.blogspot.com/2014/08/historia-kapten-samadikun-pahlawan.html Diakses pada 3 Maret 2022

      edentsundip 17 Agustus, 2020 cara Generasi Muda Melanjutkan Perjuangan Sebagai Makna Kemerdekaan http://lpmedentsundip.com/cara-generasi-muda-melanjutkan-perjuangan-sebagai-makna-kemerdekaan/ diakses pada 2 Maret 2022

      Detiknews 10 November 2017 Kisah Gugurnya Samadikun Sang Komandan Kapal Gajah Mada https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-3721485/kisah-gugurnya-samadikun-sang-komandan-kapal-gajah-mada diakses pada 3 Maret 2022

      Categories: KARYA SANTRI

      0 Comments

      Leave a Reply

      Avatar placeholder

      Your email address will not be published. Required fields are marked *