Ditulis oleh : Arkan Abdillah, Ezra Dimitri, Zahwan
Di era sekarang tantangan global yang kita hadapi semakin banyak dan kompleks, tantangan tersebut semakin kompleks seiring perkembangan teknologi yang semakin pesat, khususnya media sosial. Pada saat ini hingga 15 tahun mendatang pekerja akan didominasi oleh “Gen Z”. Gen Z yang kehidupannya sangat terikat dengan teknologi menyebabkan mereka mendapatkan arus informasi yang begitu kompleks dan membuat mereka lebih kritis terhadap lingkungan mereka, sehingga mereka sadar akan banyaknya permasalahan di dunia kerja yang kompleks.
Salah satu masalah utamanya ialah kurangnya perhatian perusahaan dalam membangun healthy workplace yang efektif. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan pada tahun 2023 tingkat burnout pekerja di Indonesia mencapai 83% yang disebabkan oleh stress berkepanjangan, lalu Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, sebanyak 25,47% penduduk bekerja memiliki jam kerja lebih dari 49 jam per minggu. Burnout seringkali menyebabkan turnover (resign), menurunnya produktivitas, serta meningkatkan risiko gangguan mental. Burnout juga bukan hanya tentang lelah secara mental akan tetapi menyangkut aspek fisik pula, yang juga bisa disebabkan oleh overwork karena bekerja di depan komputer dalam jangka waktu yang lama. Aspek fisik yang dimaksud meliputi gangguan pada sirkulasi darah akibat kurangnya pergerakan, nyeri otot dan sendi pada bagian punggung bagian bawah leher, dan bahu yang disebabkan oleh postur statis dalam jangka panjang sehingga membuat karyawan tidak nyaman dalam bekerja.
Burnout memiliki konsekuensi yang cukup mahal yaitu kehilangan produktivitas dan turnover. Sebuah studi di American Journal of Preventive Medicine memperkirakan bahwa kelelahan kerja merugikan perusahaan-perusahaan Amerika antara $4.000 dan $21.000 per karyawan setiap tahunnya karena hilangnya produktivitas dan pergantian karyawan. Untuk perusahaan dengan 1.000 karyawan, itu bisa berarti kerugian sekitar $5 juta setiap tahunnya. Kelelahan kerja karyawan dapat merugikan perusahaan 0,2 hingga 2,9 kali biaya rata-rata asuransi kesehatan, dan 3,3 hingga 17,1 kali biaya pelatihan per karyawan (Martinez. 2025).
Dalam mengatasi masalah tersebut perusahaan harus meningkatkan perhatianterhadap kondisi karyawan, agar dapat menekan risiko burnout dan turnover. Oleh sebab itu dibutuhkan healthy workplace yang baik. Healthy workplace adalah lingkungan kerja yang mendukung kesehatan fisik, mental, dan kesejahteraan karyawan. Yang ditandai dengan adanya lingkungan kerja yang bersih dan rapi, tidak ada budaya toxic seperti senioritas berlebihan serta tekanan yang tidak sesuai kadarnya. Dalam healthy workplace juga harus ada komunikasi yang baik antara semua unsur mulai dari pegawai hingga atasan. Salah satu perusahaan yang serius memperhatikan kesehatan mental karyawan nya adalah PT Uniliver Indonesia Tbk, mereka menerapkan sejumlah kebijakan seperti, membentuk tim khusus yang berfungsi mengawal penerapan kesehatan mental di perusahaan, mengatur jam meeting, hotline gratis yang digunakan sebagai tempat menyampaikan keluh kesah karyawan. Kebijakan seperti ini dinilai efektif dalam menjaga kesehatan mental dan meningkatkan produktivitas karyawan dalam bekerja.
Oleh karena itu untuk menciptakan dan menjaga lingkungan kerja yang sehat salah satunya melibatkan kombinasi terhadap kesehatan fisik, mental, dan lingkungan kerja yang suportif. Dan berikut ini ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mencapai hal tersebut:
Dari Sisi Individual/Karyawan
- Mengatur Prioritas Dan Waktu
Dari PT Uniliver kita dapat mengambil contoh berupa mengatur skala prioritas pekerjaan. Hal ini merupakan satu strategi yang efektif untuk mengurangi beban perkerjaan. Skala prioritas dapat membantu kita dalam memilih perkerjaan mana yang harus diutamakan untuk diselesaikan. Cara ini membantu pekerja supaya lebih teratur mengarahkan time management sehingga dapat membantu meningkatkan produktivitas
- Waktu Istirahat/Jeda Pekerjaan
Istirahat atau jeda bagi tumbuh itu sangat baik untuk meningkatkan produktivitas, kreativitas, dan fokus. Sebab otak manusia memiliki kapasitas terbatas untuk fokus, istirahat juga dapat mencegah burnout yang diakibatkan kelelahan mental dari jam kerja tinggi. Dengan istirahat pula karyawan dapat mengurangi risiko cidera yang diakibatkan oleh posisi statis dalam jangka waktu lama
Budaya & Komunikasi Sosial Di Lingkungan Kerja
Pada era angkatan kerja yang didominasi oleh Gen Z budaya komunikasi yang baik menjadi salah satu kunci untuk membantu mereka mencapai produktivitas yang tinggi sebab mereka butuh atasan yang hadir sebagai mentor yang dapat menjelaskan apa yang harus mereka kerjakan. Gen Z juga memiliki gaya komunikasi yang lebih santai sehingga seringkali atasan perlu menyesuaikan. Budaya komunikasi dapat mencegah toxic relationship antar karyawan sehingga membantu lingkungan kerja yang lebih nyaman.
Budaya komunikasi yang baik seperti ini nyaris tidak membutuhkan biaya insentif untuk menerapkannya sehingga dapat diakukan sebagai langkah awal bagi perusahaan dalam menerapkan healthy workplace.
Pengelolaan Lingkungan Fisik Dan Kebersihan
- Menjaga Kebersihan Ruang Kerja
Memperhatikan kebersihan lingkungan kerja, terutama ruang kerja adalah salah satu hal yang penting dalam suatu perusahaan yang hendak menerapkan healthy workplace. Sebab dengan adanya lingkungan kerja yang bersih dapat meningkatkan energi seperti dengan pencahayaan yang cukup atau udara yang bersih. Menciptakan lingkungan kerja yang bersih pula dapat memberikan kenyamanan dan membuat karyawan merasa dihargai.
- Fasilitas Kesehatan
Ini merupakan hal yang penting dan krusial bukan hanya sekedar tunjangan kesehatan saja, tetapi merupakan investasi untuk meningkatkan produktivitas dan mengurangi absensi karyawan.
Intensi Gen Z Terhadap Healthy Workplace
Gen Z lebih mengutamakan pekerjaan yang dapat memenuhi workplace wellness. Yang merupakan praktek kehidupan sehari-hari di lingkungan yang mendukung kesehatan mental dan fisik mereka. Jarang dari mereka yang mengutamakan promosi dan gaji. Bahkan menurut Survei Generasi Z dan Milenial 2025 dari Deloitte, hanya sekitar 6% yang menyatakan bahwa tujuan utama mereka adalah untuk mencapai posisi tinggi. Walaupun demikian bukan berarti mereka kekurangan ambisi, mereka menyatakan bahwa alasan terkuat mereka memilih bekerja pada saat ini adalah untuk perkembangan dan pembelajaran. Tapi banyak dari Gen Z merasa bahwa manajer mereka kurang memahami bagaimana agar mereka berkembang. Gen Z ingin manajer menyediakan bimbingan, inspirasi, dan motivasi terkait pekerjaan mereka.
Pengaruh Healthy Workplace Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Perusahaan
Menurut Warren Buffet dikutip dari The New York Times menyebut pengeluaran perawatan kesehatan sebagai “pajak perusahaan yang sebenarnya”(Sorkin,A. R. 2017). Healthy workplace membantu menjaga kesehatan fisik dan mental karyawan sehinga dapat mencegah terjadinya pengeluaran yang diakibatkan oleh perawatan kesehatan. Menurut salah satu artikel dari Journal of Occupational and Environmental Medicine, Healthy workplace dapat membantu karyawan meningkatkan produktivitas, tingkat turnover karyawan yang lebih rendah, menarik talenta berkualitas, dan meningkatkan tingkat keterlibatan karyawan (fabius, 2021). Tak hanya itu seiring dengan bertambahnya produktivitas karyawan akan berpengaruh terhadap meningkatnya output perusahan, sehingga output yang dihasilkan menjadi maksimal. Dengan hal ini daya saing perusahaan meningkat dan bertambahnya loyalitas konsumen terhadap produk yang dihasilkan secara maksimal.
Langkah Awal Healthy Workplace
Langkah awal untuk memulai healthy workplace yang dapat dilakukan oleh perusahaan ialah pembiasaan budaya komunikasi yang sehat. Hal ini dapat diterapkan di seluruh skala perusahaan sebab tidak membutuhkan dana tertentu, hal ini juga efektif dalam menciptakan hubungan yang sehat antar unsur karyawan.
Dapat diambil kesimpulan bahwasanya healthy workplace membantu perusahaan dalam meningkatkan produktivitas karyawan. Karyawan dengan fisik dan mental yang terjaga dapat meningkatkan profitabilitas dengan produktivitas yang tinggi. Hal ini juga mencegah Perusahaan mengeluarkan dana lebih untuk biaya perawatan kesehatan yang diakibatkan oleh burnout sehingga dapat mengefisiensikan dana operasional Perusahaan. Demi meningkatkan minat talenta Gen Z, healthy workplace juga memiliki faktor yang cukup besar dalam faktor pemilihan pekerjaan mereka. Dalam penerapan healthy workplace budaya komunikasi yang baik menjadi tonggak awal dalam pembiasaan. Komunikasi yang baik dapat membuat karyawan merasa nyaman dan dihargai sehingga loyalitas yang diberikan bagi perusahaan semakin meningkat. Budaya komunikasi yang baik tidak memerlukan biaya tertentu sehingga baik untuk menjadi langkah awal perusahaan dalam penerapan healthy workplace.
Daftar Pustaka
Belajar dari Unilever untuk Menjaga Kesehatan Mental Karyawan. (n.d.-a). https://cdhx.gmlperformance.com/articles/belajar-dari-unilever-untuk-menjaga-kesehatan-mental-karyawan
Jobixo. (2026, April 10). Menciptakan budaya kesehatan untuk kesuksesan di tempat kerja; Pentingnya Lingkungan Kerja yang Sehat di Kantor. https://id.linkedin.com/pulse/creating-culture-wellness-success-work-significance-healthy-working?tl=id
Pertamina, R. S. P. (n.d.). Sindrom Burnout: Dampak Serius pada. https://rspp.co.id/artikel-detail-874-Sindrom-Burnout-Dampak-Serius-pada-Kesehatan-Mental-dan-Fisik-yang-Tidak-Boleh-Diabaikan.html#:~:text=Tahukah%20Anda%2083%25%20pekerja%20di%20Indonesia%20mengalami,RI%20tahun%202023%20menunjukkan%20bahwa%20sindrom%20ini
We. (n.d.). Waspada Burnout: Tanda-Tanda, Dampak, dan Data Terbaru di Indonesia | WE+ Blog. WE+. https://weplus.id/article/waspada-burnout-tanda-tanda-dampak-dan-data-terbaru-di-indonesia/1797/
Urways-Indonesia.Co.Id. (2025, December 24). Workplace tidak sehat Diam-Diam menurunkan kinerja organisasi. Urways Indonesia. https://urways-indonesia.co.id/strategi-membangun-workplace-produktif-sehat/
Halodoc, R. (2025, February 2). Duduk terlalu lama di depan laptop bisa menyebabkan masaah kesehatan. Ketahui dampak kesehatan pekerja jika s. Halodoc. https://www.halodoc.com/artikel/5-dampak-kesehatan-pekerja-bila-terlalu-sering-duduk-di-depan-laptop
Alya. (2024, April 30). Pentingnya Istirahat Kerja Untuk Produktivitas dan Kesejahteraan – Emkay Series. Emkay Series. https://series.emkay.id/pentingnya-istirahat-kerja-untuk-produktivitas-dan-kesejahteraan/
Prodi Ilmu Komunikasi. (n.d.). https://komunikasi.untag-sby.ac.id/web/beritadetail/komunikasi-antarbudaya-dalam-lingkungan-kerja-multinasional.html#:~:text=Dalam%20konteks%20lingkungan%20kerja%20multinasional%2C%20komunikasi%20antarbudaya,kesalahpahaman%20dan%20konflik%20yang%20dapat%20timbul%20akibat
Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey 2025. (2026, March 31). Deloitte. https://www.deloitte.com/global/en/issues/work/genz-millennial-survey.html
Palumbo, N. (2025, May 12). Gen Z in the workplace: Values, trends, and more. Diversity Employment. https://diversityemployment.com/civil-rights-cultural-diversity/gen-z-in-the-workplace-values-trends-and-more/
Cwedemeyer. (2026, April 22). Gen Z changed workplace wellness, Here’s what every team needs now. Outback Team Building & Training. https://www.outbackteambuilding.com/blog/gen-z-workplace-wellness/
Hayes, J., II. (2025, March 17). Employee burnout: the hidden threat costing companies millions. Forbes. https://www.forbes.com/sites/julianhayesii/2025/03/17/employee-burnout-the-hidden-threat-costing-companies-millions/
Fabius, R., & Phares, S. (2021). Companies that promote a culture of health, safety, and wellbeing outperform in the marketplace. Journal of Occupational and Environmental Medicine, 63(6), 456–461. https://doi.org/10.1097/JOM.0000000000002153
0 Comments